Selesai dari Astana Giribangun, kami melanjutkan perjalanan wisata sejarah kami ke Candi Cetho. Sebuah Candi Hindu di  lereng gunung lawu Dusun Cetho, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Letaknya di ketinggian 1.400 Mdpl. Latar belakangnya mirip seperti candi sukuh yang lebih familiar di telinga masyarakat.

gerbang candi cetho

Menurut beberapa catatan sejarah, Candi Cetho dibangun pada masa yang sama dengan Candi Sukuh sekitar abad 15 pada masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit. Bahkan keunikan candi ini hampir mirip dengan Candi Sukuh dengan bentuk sama dengan kebanyakan candi Hindu di tanah Jawa, yaitu menyerupai punden berundak. Seolah menyimpulkan bahwa jatuhnya Majapahit menandakan kembalinya kebudayaan asli masyarakat setempat.

kebun teh kemuning di jalan menuju astana giribangun

kebuh teh kemuning yang akan dilewati sebelum sampai ke lokasi tujuan, candi cetho

Kami sampai di Candi Cetho sekitar pukul satu siang, meski siang hari udara dingin, bahkan berkabut. oh ya, kata ‘cetho’ dalam bahasa jawa berarti ‘jelas’. Pantas saja, dari sini kami dapat melihat keindahan Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Merapi serta Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang tampak samar-samar dari kejauhan. Tak hanya itu, Kota Surakarta dan Kota Karanganyar pun jadi suguhan menarik.

Sejarah Candi Cetho

bangunan d pelataran pertama candi cetho

Teras di candi cetho

Beberapa sumber menyatakan bahwa situs Candi Cetho ditemukan pertama kali pada tahun 1842 oleh Van de Vlies. Tetapi untuk pertama kali digali pada tahun 1928 setelah sebelumnya telah di lakukan beberapa kali penelitian lanjutan oleh A.J. Bennet Kempers, N.J. Krom, lalu W.F. Sutterheim dan K.C. Crucq, serta orang Indonesia bernama Riboet Darmosoetopo.

Hasil galian Candi Cetho tersebut menjadi bukti bagi para ahli bahwa candi ini di bangun pada masa akhir kejayaan Majapahit kira-kita abad 15. Meskipun juga ada beberapa ahli yang meyakini bahwa Candi Cetho dibangun jauh sebelum Majapahit. Hal ini karena Candi Cetho dibangun dengan relief yang sederhana menggunakan bahan dasar berupa batu andesit sementara kebanyakan candi di era Kerajaan Majapahit dibangun dengan relief mendetail menggunakan bahan dasar batu bata merah.

Arsitektur Candi Cetho Karanganyar

Walau saya bukan anak artistek, tetapi tampilan Candi Cetho dapat dinilai dengan sangat mudah. Seperti halnya Candi Sukuh, Candi Cetho memiliki gaya arsitektur yang  mirip candi dari suku Maya di Meksiko, atau suku Inca di Peru. Beberapa patung yang ditemukan disini, sama sekali tak mirip tampilan orang Jawa melainkan mirip orang Sumeria atau orang Romawi. Seolah menunjukkan bahwa candi ini memang telah dibangun jauh sebelum Majapahit.

menuju gerbang dua candi cetho

Saya dan Peserta kunjungan wisata lainya

Candi ini dulunya merupakan candi yang terdiri dari empat belas teras yang berundak dari atas ke bawah. Namun yang tersisa hanya tiga belas teras, dan setelah pemugaran malah hanya tinggal sembilan teras. Sebelum masuk ke teras-teras, kita akan melewati dua buah arca Nyai Gemang Arum.

Teras pertama. Sebelum memasukinya kita akan disambut gapura besar mirip gapura di Pura Bali. Di teras pertama hanyalah halaman luas dengan bangunan semacam pendopo tanpa dinding dengan pondasi setinggi dua meter. Dari sini kita ke teras kedua. Untuk masuk ke teras kedua terlebih dahulu disambut gapura dan tangga dimana disampingnya terdapat dua patung yang disebut Nyai Agni, salah satu dari arca ini telah rusak.

Memasuki Teras kedua yang hampir mirip dengan teras pertama. Hanyalah sebuah halaman, namun di halaman ini ada hamparan batuan yang tersusun membentuk burung Garuda. Dimana dalam kepercayaan Hindu, burung Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu. Di ujung kedua sayapnya dan kepala burung garuda terdapat sebentuk sinar matahari. Serta di bagian punggung terdapat bebatuan yang membentuk kura-kura. Selain itu, ada juga gambar buah alat kelamin laki-laki disebut Kalacakra dan sebuah segitiga. Inilah alasan mengapa Candi Cetho  disebut juga candi lanang (berarti laki-laki). Di dalam gambar-gambar tersebut terdapat bentuk seperti katak, mimi, dan ketam seolah melambangkan sengkala angka tahun Saka 1373 atau 1451 Masehi.

Pindah ke teras ketiga, disini kita menjumpai dua bangunan tanpa dinding dengan relief orang dan binatang di dindingnya. Di dalamnya ada semacam meja batu untuk sesaji. Menuju teras empat, dimana

pelataran pertama candi cetho

Meski disiang hari, lokasi terlihat berkabut

disitu  terdapat tangga yang sangat rapi pembuatannya, ini adalah tangga hasil pemugaran. Ke Teras kelima. Di dalamnya terdapat sepasang arca yang disebut Bima atau penjaga pintu masuk teras kelima. Masuk ke teras keenam yang hanyalah berupa halaman kecil. Kemudian kita ke teras ketujuh, dimana di dalamnya terdapat gapura dengan tangga batu yang tersusun rapi. Ditangga ini terdapat sepasang patung Ganesha serta sebuah patung Kalacakra.

Dari teras ke tujuh, kita ke teras delapan dan sembilan. Diteras delapan terdapat sebuah tangga dari batu yang dijaga oleh sepasang arca. Kemudian ada sepasang bangunan sebagai ruang penyimpana benda kuno. Disini juga terdapat sebuah patung Sabdapalon, dan patung Nayagenggong. Kedua patung ini adalah tokoh Punakawan.

Memasuki teras kesembilan, disini terdapat 6 buah bangunan, 3 di kanan dan 3 di kiri yang saling berhadapan. Di salah satu bangunan sebelah kiri ada arca Prabu Brawijaya sementara di salah satu bangunan sebelah kanan ada arca Kalacakra. Disana juga terdapat sebuah dinding batu setinggi 1,6 m. Dan sini, bangunan-bangunan lain di Candi Cetho akan terlihat dengan jelas.

gambar garuda kendaraan dewa wisnuNah, itulah perjalanan saya dan teman-teman menyelesaikan tugas kuliah. Walau demikian keindahan Candi Cetho yang terlihat dari relief bangunanya dan keadaan alam sekitar yang dingin tentu menyimpan pesona tersendiri. Saya sendiri mengaguminya, benar-benar perjalanan yang mengesankan. Tentu siapapun ingin mencobanya, maka cobalah sendiri dan biarkan diri anda mengenang peradaban masa lalu di sini. Candi Cetho Karanganyar.

https://i2.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/05/gerbang-candi-cetho.jpg?fit=960%2C720&ssl=1https://i2.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/05/gerbang-candi-cetho.jpg?resize=150%2C150&ssl=1litaliaBerbudayaJatengJatengWisata AlamCandi,Karanganyar,wisa,Wisata Bangunan Tua,Wisata Sejarah
Selesai dari Astana Giribangun, kami melanjutkan perjalanan wisata sejarah kami ke Candi Cetho. Sebuah Candi Hindu di  lereng gunung lawu Dusun Cetho, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Letaknya di ketinggian 1.400 Mdpl. Latar belakangnya mirip seperti candi sukuh yang lebih familiar di telinga masyarakat. Menurut beberapa catatan sejarah, Candi Cetho dibangun...
The following two tabs change content below.

litalia

Writer at Wisatawan.id
Sebagai anak jurusan pendidikan sejarah, tentu saya menyukai perjalanan. dalam setiap perjananan pula, akan saya abadikan dalam memori dan jepretan kamera.