Pantai Banyutowo, berpasir seperti Black Sand Beach di California. Memiliki sunset seperti Pantai Marina di Semarang, dan memiliki keramahan penduduk dengan toleransi tingkat tinggi yang begitu identik dengan bangsa Indonesia. Sementara sunrisenya luar biasa. Setengan penduduk sekitar Pantai Banyutowo beragama Kristen, setengahnya lagi Islam. Melebur jadi satu kesatuan masyarakat desa Banyutowo.

Para pengunjung yang menyaksikan keindahan Pantai Banyutowo

Para pengunjung yang menyaksikan keindahan Pantai Banyutowo | ©Litalia/wisatawan.iD

Pantai yang terletak di sebelah desa kelahiranku ini memiliki begitu mempesona soal sunrisenya. Mentari seolah muncul tepat di atas air laut. Sementara semburat cahayanya mengkuning di langit-langit lautan terpantul ke dalam air laut. Seolah dua lukisan cahaya ada di langit dan lautan. Meski air lautnya tak begitu jernih memang. Sebab banyak kapal-kapal milik nelayan setempat bersandar dekat dengan pelabuhan pantai ini.

Waktu Terbaik Berkunjung

Pesonanya lengkap. Ada sunrise dan sunset. Jadi siapapun yang berkunjung tinggal memilih. Ingin menikmati sunrise atau sunset. Dua-duanya sama indahnya. Tetapi jika ingin mendapat dua lukisan cahaya di langit dan lautan, berkunjung sehabis subuh menunggu mentari muncul adalah waktu terbaik. Toh udaranya juga tak begitu dingin.

Menunggu kemunculan mentari pagi, bisa dilakukan sambil duduk di tepi pantai di atas beton hasil reklamasi pemerintah beberapa tahun yang lalu. Di proyeksi sebagai pelabuhan yang kabarnya akan menggantikan pelabuhan Juwana meski sampai sekarang belum ada kabar kelanjutanya. Siapapun yang berkunjung pasti tak akan sendirian. Banyak pengunjung lain pagi-pagi buta menunggu sunrise. Bahkan jalanan sering macet dan terlambat datang harus kecewa karena tak bisa masuk. Padahal tak ada biaya masuk jika anda ingin berkunjung.

Pantai Banyutowo bukanlah objek wisata yang telah dikelola oleh pemerintah sebagai destinasi wisata. Siapapun bebas masuk untuk menikmati keindahanya tanpa berbatas waktu. Sebab pantai banyutowo sebenarnya adalah pelabuhan untuk bersandar kapal-kapal nelayan setempat yang berangkat melaut pada pagi buta dan kembali pada siang hari menjelang sore. Jadi selain menikmati keindahan pantai, siapapun yang berkunjung juga dapat menikmati hasil laut.

Langit pagi hari di Pantai Banyutowo | ©Litalia/wisatawan.iD

Pantai banyutowo kaya akan hasil laut. Ada banyak jenis ikan yang selalu di tangkap oleh para nelayan setiap hari. Mulai dari tuna, cumi-cumi, kepiting, udang dan lain sebagainya. Jika anda ingin menikmati, harga yang ditawarkan juga relatif murah. Bahkan jika di bandingkan dengan daerah lain, di sini jauh lebih murah.

Walau memang masih jarang warung-warung makan yang menyediakan hasil olahan laut. Jadi jika anda membeli, yang anda beli masih dalam keadaan segar dan belum matang. Anda perlu mengolahnya terlebih dahulu. Keadaan masih mentang inilah yang biasanya di manfaatkan oleh pengunjung pantai Banyutowo. Para pengunjung biasanya ramai-ramai membakar ikan di tepi pantai pada sore hari. Sensasi membakar ikan dan menyantapnya langsung di tepi pantai saya jamin begitu luar biasa. Sensai udara sejuk di tambah aroma ikan bakar akan menggoda anda.

Lokasi Pantai Banyutowo

Pantai Banyutowo terletak di Desa Banyutowo Kecamatan Dukuhseti Kabuaten Pati. Dari pusat kota kota, anda jalan ke Utara menuju desa Tayu. Dari Tayu anda juga harus ke utara menuju desa Dukuhseti. Baru dari Dukuhseti anda bisa menuju ke Desa Banyutowo. Nah ketika masuk di Desa Banyutowo, silakan anda tanya kepada warga setempat, sebab tidak ada plang penunjuk letak Pantai Banyutowo.

Kapal-kapal nelayan bersandar di pantai Banyutowo | ©Litalia/wisatawan.iD

Di Desa ini, ada sebuah sumur yang dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Pasalnya sumur tersebut dulu adalah bekas tongkat sesepuh Desa, Ki ageng Tunggulwulung yang kehausan saat babad alas gongliwangliwung. Gongliwangliwung adalah alas yang kemudian di babad menjadi desa banyutowo dan bulak (sekarang menyatu menjadi Banyutowo).

Ketika kehausan, Ki Ageng Tunggulwulung menancapkan tongkatnya ke tanah dan keluar airnya. Air tersebut kemudian di percaya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Itulah mengapa desa tersebut di sebut desa Banyutowo. Yang berasal dari kata “banyu” artinya air dan “towo” dari kata “tawar” yang mampu menawarkan segala macam penyakit. Meski ada juga yang mengatakan bahwa asal nama banyutowo karena meski letaknya di dekat pantai, yakni pantai banyutowo, desa banyutowo airnya tetap tawa alias tidak asin (tidak mengandung banyak garam).

Mengapa Wajib Di Kunjungi?

Tak banyak pantai di negeri ini yang mampu menyajikan dua keindahan dalam satu tempat. Keindahan sunrise di pagi hari dan sunset di sore hari. Di tambah lagi, pasir hitamnya begitu lembut. Pantainyapun kaya dengan hasil laut yang bisa anda nikmati dengan bersantai. So, mengapa tak kita buktikan sendiri. Bukankan melihat sekali jauh lebih mengenang ketimbang ribuan kali diceritakan? Tetapi sekali melihat, anda akan menyimpan kerinduan.

https://i2.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/08/pantai-banyutowo1.jpg?fit=1024%2C646&ssl=1https://i2.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/08/pantai-banyutowo1.jpg?resize=150%2C150&ssl=1litaliaJatengPantaiPati,Sunrise,Sunset,wisata air
Pantai Banyutowo, berpasir seperti Black Sand Beach di California. Memiliki sunset seperti Pantai Marina di Semarang, dan memiliki keramahan penduduk dengan toleransi tingkat tinggi yang begitu identik dengan bangsa Indonesia. Sementara sunrisenya luar biasa. Setengan penduduk sekitar Pantai Banyutowo beragama Kristen, setengahnya lagi Islam. Melebur jadi satu kesatuan masyarakat...
The following two tabs change content below.

litalia

Writer at Wisatawan.id
Sebagai anak jurusan pendidikan sejarah, tentu saya menyukai perjalanan. dalam setiap perjananan pula, akan saya abadikan dalam memori dan jepretan kamera.