Situs arkeologi Sangiran adalah salah satu situs terbesar yang ditemukan di bumi ini.  Di sana tergambar kehidupan masa lalu. Ada ribuan fosil di temukan sebagai bukti kehidupan serta peradaban masa lalu. Tak ayal, situs ini selalu dikunjungi sebagai kajian dalam penelitian, juga sebagai tempat wisata. Dan untuk itulah, kami berkunjung.

Peradaban jaman dulu di Situs arkeologi Sangiran

Peradaban jaman dulu di Museum Sangiran

Berwisata sekaligus belajar mengenal masa lalu. Tampaknya itulah yang akan muncul bagi siapa saja yang pernah ke Sangiran. Keindahan fosil, bentuk manusia purba, fosil binatang yang hidup jaman dulu sekaligus bukti kehidupan dan peradabannya terpajang apik di dalam situs. Seolah kita bisa melihat, bagaimana kehidupan jaman dulu lengkap dengan bagimana mereka bersosialisasi dengan alam dan manusia.

Meski masih menjadi perdebatan tentang bagaimana awal kehidupan manusia. Di dalam situs ini, kita seolah mendapatkan bukti entah benar atau tidak berbagai teori yang berkembang selama ini. Semua teori bagaimana awal manusia di ciptakan ada di sana. Kami membuktikanya pada Kamis, 2 Juni 2016.

Karakteristik Sangiran (Letak, Luas Serta Keindahan)

Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba terbesar yang ada di bumi Jawa. Terletak 15 kilometer di sebelah utara Kota Surakarta. Gapura Sangiran terletak di jalan Solo-Purwodadi yaitu daerah yang dekat perbatasan antara Gemolong dan Kalioso. Gapura ini dapat dijadikan penanda untuk menuju Sangiran, Desa Krikilan. Jarak dari gapura Sangiran menuju Desa Krikilan ± 5 km.Pesan Anies Baswedan di Situs arkeologi Sangiran

Sangiran mempunyai luas ± 56 km2. Secara administratif, Sangiran berada di dua wilayah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Sragen yang meliputi Kecamatan Kalijambe, Kecamatan Plupuh, dan Kecamatan Gemolong, dan Kabupaten Karanganyar yaitu di Kecamatan Gondangrejo.

Sangiran dikelilingi oleh Gunung Merapi-Merbabu di sebelah barat dan Gunung Lawu disebelah tenggara. Ditinjau dari batuan pembentuknya, sebagian sedimen Sangiran merupakan sedimen berumur Tersier dalam bentuk batu lempung yang tertutup batuan vulkanis yang berasal dari Gunungapi Lawu. Keadaan lapisan lempung yang lembek dan mendapatkan tekanan lapisan batuan diatasnya mengakibatkan lipatan diapiris yang menghasilkan struktur kubah.

Kubah Sangiran memiliki kemiringan pelapisan batuan ke segala arah (radial). Lapisan batuan termuda sampai tertua di Kubah Sangiran tersusun oleh formasi notopuro, formasi kabuh, grezbank, formasi pucangan dan formasi kalibeng

Proses Terbentuknya situs arkeologi Sangiran

Sangiran secara geologis mempunyai riwayat lingkungan lautan, waktu yang lama dan berbagai proses akibat geologis seperti pengangkatan daratan dan aktifitas vulkanisme gunung berapi sekitarnya, menyebabkan lingkungan tersebut menjadi sebuah daratan seperti sekarang ini.

Sebagai akibat sejarah geologis tersebut di atas, maka dalam perlapisan batuan di Sangiran saat ini fosil binatang laut banyak dan sering ditemui misalnya beberapa moluska lautan Murex dan Natica termasuk juga mikroforamonifera. Keadaan permukaan bumi Sangiran seperti yang terlihat sekarang ini terjadi pada masa Pleistosen antara 2 juta sampai dengan 1,7 juta tahun yang lalu (Anjarwati dalam Budiantoro, 2012).

Menurut beberapa ahli geologi mengatakan bahwa Sangiran awalnya adalah lautan dangkal. Saat itu dunia belum stabil seperti yang sekarang ini karena bumi seringkali mendapatkan tenaga dari dalam bumi (tenaga endogen) seperti halnya dengan Sangiran. Akibat hal tersebut maka terjadilah pengangkatan dan pelipatan pada permukaan laut Sangiran dan terbentuklah daratan-daratan seperti rawa dan danau. Setelah itu terjadi masa glacial atau pembekuan dimana menyebabkan menyusutnya permukaan air laut. Sehingga danau dan rawa yang telah terbentuk di Sangiran menjadi daratan kering.

Situs arkeologi SangiranKarena sangiran dikelilingi beberapa pegunungan yang telah saya sebut diatas maka proses pembentukan sangiran ini juga disebabkan oleh aktivitas gunung tersebut. Akibat gaya kompresi dan gaya endogen dari gunung Lawu maka terbenuklah beberapa kubah misalnya kubah gamping, kubah gemolong, ubah bringinan, dan lain sebagainya. Lama kelamaan tenaga endogen tersebut mengakibatkan terbentuknya bukit di permukaan sangiran.

Selain membentuk bukit, aktivitas gunung lawu juga menyebabkan perbukitan longsor dan tanah yang ada di sekitar sungai cemara juga ikut longsor.

Tanah di sekitar gunung lawu yang longsor tersebut akan mengakibatkan erosi dan sedimentasi. Nah dari proses erosi tersebut maka muncullah fosil-fosil binatang maupun manusia purba dimana fosil tersebut dapat kita temui setelah turun hujan karena setelah turun hujan tanah di sekitar sungai cemara terkikis. Dan pada akhirnya lapisan tanah Sangiran terbagi menjadi 4 lapisan yaitu Formasi Notopuro, Formasi Kabuh, Formasi Pucangan dan Formasi Kalibeng.

Karena dahulu kala Sangiran adalah sebuah lingkungan lautan, maka disana banyak ditemukan fosil semacam ikan dan hewan laut lainnya. Selain itu, banyak juga ditemukan fosil manusia purba karena pada zaman dahulu manusia purba berpindah ke daerah perairan untuk mencari makanan dan minuman agar tetap hidup. Dan karena perbedaan karakteristik lapisan tanah maka sering juga ditemukan fosil makhluk hidup yang beraneka ragam.

Seiring berjalannya waktu sekarang museum Sangiran telah mengoleksi fosil berjumlah lebih dari 13 ribu buah. Ini terdiri dari fosil manusia purba, mamalia purba maupun reptile purba.

Mengapa anda wajib berkunjung ke situs arkeologi Sangiran?

Buat anda yang suka dengan dunia sejarah, situs arkeologi Sangiran adalah obyek wisata yang wajib anda kunjungi dan anda analisis karena akan banyak sekali ilmu baru yang anda dapatkan disitu. Selain untuk observasi, Sangiran ini juga cocok untuk berlibur bersama teman, keluarga maupun pasangan anda karena didalam Sangiran menyajikan pemandangan yang menarik dan unik.

Wisata menarik lainnya: Relief Candi Cetho Karanganyar.

Wisata ke situs arkeologi sangiran akan mengingat kita pada  masa lalu. Meski letaknya ada di daerah perkampungan sekaligus pegunungan, namun situs ini akan memberikan efek magis. Semacam pesan: Terkadang orang harus mengingat masa lalunya, agar ia punya kesadaran bagaimana ia terbentuk dan melupakan kesombonganya.

 

https://i2.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/08/Pesan-Anies-Baswedan-di-Museum-sangiran.jpg?fit=636%2C480&ssl=1https://i2.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/08/Pesan-Anies-Baswedan-di-Museum-sangiran.jpg?resize=150%2C150&ssl=1litaliaBerbudayaJatengCagar Budaya,Karanganyar,Napak Tilas,Sragen,Wisata Sejarah
Situs arkeologi Sangiran adalah salah satu situs terbesar yang ditemukan di bumi ini.  Di sana tergambar kehidupan masa lalu. Ada ribuan fosil di temukan sebagai bukti kehidupan serta peradaban masa lalu. Tak ayal, situs ini selalu dikunjungi sebagai kajian dalam penelitian, juga sebagai tempat wisata. Dan untuk itulah, kami...
The following two tabs change content below.

litalia

Writer at Wisatawan.id
Sebagai anak jurusan pendidikan sejarah, tentu saya menyukai perjalanan. dalam setiap perjananan pula, akan saya abadikan dalam memori dan jepretan kamera.