Pagi itu, kala mentari belum lagi menghilangkan tetesan embun di dedaunan. Sorot lampu rumah-rumah dan kos-kosan masih menyala, kami melakukan perjalanan menuju kompleks Astana Giribangun. Sebuah tempat untuk kompleks pemakaman khusus bagi keturunan dan keluarga Mangkubuwono keduabelas atau yang terakhir. Perjalanan dimulai dari kampus konservasi tercinta.

Kompleks Astana Giribangun

Kompleks Astana Giribangun | Litalia
@WISATAWAN.ID

Selesai melakukan doa dan sholat subuh bersama, perjalanan kami mulai. Mengenakan bus, kami sebanyak 41 mahasiswa mendapatkan tugas masing-masing. Maklum, perjalanan ini adalah perjalanan untuk memenuhi tugas kuliah. Tugasnya sederhana, kami yang duduk di bis akan diundi untuk memainkan peran sebagai tour guide secara bergantian. Becerita mengenai perjalanan sampai Astana Giribangun. Tetapi bagi saya, membayangkan tempat itu sama saja membayangkan kisah cinta jendral besar presiden kedua bangsa ini, HM. Soeharto dengan Raden Ayu Siti Hartinah, yang akrab disapa dengan Bu Tien.

Sebelum sampai di sana, kami sempat berhenti sebentar di Boyolali untuk mengisi perut. Tapi jujur saja, ini terlalu pagi untuk kami sarapan. Kompleks Astana Giribangun adalah kompleks megah yang berada di lereng sebelah barat Gunung Lawu. Tepatnya di Desa Karang Bangun, Karanganyar. Disana bersemayam beberapa makan, diantaranya pasangan romantis Jendral Soeharto dan Ibu tien. Astana sendiri dalam bahasa kedaton berarti kuburan, pasareyan, atau makam

Gerbang masuk Astana GiribangunKompleks ini dibangun di atas perbukitan dibawah Astana Mangadeg, yaitu komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran. Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl, sementara kompleks Astana Giribangun ada pada 666 meter dpl. Maka untuk mencapai ke lokasi, kami harus berjalan mendaki beberapa anak tangga untuk mencapainya. Pemilihan lokasi di atas tetapi tetap di bawah Astana Mangadeg tentu bukan tanpa alasan. Hal ini untuk tetap menghormati para penguasa kesultanan Mangkunegara.

Kompleks makam keluarga mantan Presiden Soeharto yang diresmikan pada hari Jumat Wage, tanggal 23 Juli 1976 ini membutuhkan waktu pembangunan selama dua tahun. Peresmianya ditandai dengan adanya pemindahan jenazah ayah Ibu tien (Soemaharjomo) dan kakak Ibu tien (Siti Hartini Oudang) dari kompleks Makam Utoroloyo di Kota Solo.

tangga menuju argo kembang Astana giribangunSebelum sampai ke kompleks Astana Giribangun, saya dan teman-teman harus melewati jalan berundak-undak dan berkelok-kelok serta menanjak. Meski lelah selama berjalan menyusuri tangga saya dapat melihat keindahan pemandangan alam bukit ngaglik. Pemandangan alam yang Indah, taman dengan suasana rindang. Dari kompleks ini, saya dan teman-teman dapat melihat hamparan sawah yang hijau.

Kompleks Astana Giribangun

Sesampai di Astana Giribangun, saya dapat melihat gaya arsitektur yang mengadopsi bangunan rumah khas Jawa berbentuk joglo yang terletak di area seluas 200 meter persegi. Kompleks seluas itu, terbagi dalam tiga cungkup, Cungkup Argosari, Cungkup Argokembang, dan Cungkup Argotuwuh.

makan dibangunan utama astana giribangun 3Cungkup Argosari merupakan cungkup tertinggi yang memiliki empat tiang utama terbuat dari beton dengan lapisan kayu ukiran. Pada dasar tiang dihiasi dengan cincin yang terbuat dari kuningan. Lalu lantainya terbuat dari marmer. Ruangan tengan ini seluas seluas 81 meter persegi. Dindingnya  terbuat dari kayu berukir gaya Surakarta, dimana di dalam ruang ini hanya untuk lima makam. Ada makam Siti Hartini berada pada sisi paling barat, makam pasangan Soemarharjomo (ayah dan ibu Tien) di tengah dan paling timur makam Ibu Tien Soeharto. Sementara di sebelah barat makam Ibu Tien terdapat makam Jendral Soeharto.

tangga naik ke astana giribangunDi luar kompleks Cungkup Argosari adalah Cungkup Argokembang, yaitu kompleks pemakanan seluas 567 meter persegi untuk 116 badan. Dimana yang di makamkan disini adalah para pengurus pleno, seksi Yayasan Mangadeg dan keluarga besar Mangkunegaran yang dianggap berjasa atau yang mengajukan permohonan

Dibagian paling luar, ada Cungkup Argotuwuh seluas 729 meter persegi untuk 156 badan. Yang berhak dimakamkan disini adalah para pengurus Yayasan Mangadeg ataupun keluarga besar Mangkunegaran yang mengajukan permohonan.

Selain tiga bangunan utama tersebut, di kompleks Astana Giribangun juga terdapat bangunan lain yang berfungsi sebagai pendukung dan pelengkap bangunan utama. Bangunan-bangunan tersebut diantaranya rumah untuk peristirahatan keluarga Soeharto, gapura utama, masjid, kamar mandi bagi peziarah utama, tandon air, dua tempat tunggu bagi para pengunjung, rumah jaga serta tempat parkir khusus bagi mobil keluarga.

makan dibangunan utama 1Seperti yang saya katakan tadi, bahwa Astana Giribangun berada dibawah Astana Mangadeg, disanalah tempat peristirahatan Raja Mangkunegara I atau Pangeran Sambernyowo atau Raden Mas Said yang memiliki kesaktian luar biasa. Bahkan julukan Pangeran Sambernyowo sebenarnya juga atas kesaktianya dalam setiap peperangan yang selalu membantai tentara Belanda. Namun sayangnya, setelah 16 tahun berjuang mengusir Belanda yang diangkat menjadi raja di Mataran justru Pakubuwono III. Akhirnya terjadi perpecahan antara kerajaan Surakarta dan Kerajaan Ngayogyakarta, dan keraton Mangkunegara lah yang dipegang oleh Pangeran Sambernyowo sebagai Raja Mangkunegaran I berdasarkan perjanjian salatiga.

Parkiran Astana giribangunDari sini, saya dan teman-teman akan menuju ke candi cetho, sebuah candi bercorak Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa-masa akhir era Majapahit di Lereng Gunung Lawu. Tetapi Astana Giribangun telah berhasil memikat hati saya, ada nuansa sejarah, keindahan serta perjalanan cinta sosok Jenderal yang tegas, gagah dan garang. Tetapi luluh seketika ketika pasangan hidupnya menemui sang khalik bahkan kepemimpinan selama 32 tahun mendapat impasnya. Siapapun akan merasakan nuansa itu jika kesini, silakan buktikan sendiri.

https://i0.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/05/makan-dibangunan-utama-2-astana-giribangun.jpg?fit=960%2C720&ssl=1https://i0.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/05/makan-dibangunan-utama-2-astana-giribangun.jpg?resize=150%2C150&ssl=1litaliaBerbudayaJatengKaranganyar,Pemakaman,Wisata Mistis
Pagi itu, kala mentari belum lagi menghilangkan tetesan embun di dedaunan. Sorot lampu rumah-rumah dan kos-kosan masih menyala, kami melakukan perjalanan menuju kompleks Astana Giribangun. Sebuah tempat untuk kompleks pemakaman khusus bagi keturunan dan keluarga Mangkubuwono keduabelas atau yang terakhir. Perjalanan dimulai dari kampus konservasi tercinta. Kompleks Astana Giribangun |...
The following two tabs change content below.

litalia

Writer at Wisatawan.id
Sebagai anak jurusan pendidikan sejarah, tentu saya menyukai perjalanan. dalam setiap perjananan pula, akan saya abadikan dalam memori dan jepretan kamera.