Ini adalah pengalaman saya merasakan kehidupan Suku Baduy, masyarakat luar menyebut suku ini dengan sebutan Suku Baduy karena sesuai dengan nama sungai dan gunung Baduy yang berada di sana. Sebenernya masyarakat suku tersebut sendiri lebih menyukai jika dipanggil Suku Kanekes, sesuai dengan nama daerah mereka. Menurut Permana (2001), Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu tangtu (Suku Baduy Dalam), panamping (Suku Baduy Luar), dan dangka (Suku Baduy yang tinggal diluar Kanekes)

Kehidupan Suku Baduy

Suasana pedesaan Suku Baduy Luar | Foto: Putri Budi
©wisatawan.id

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh kami akan melakukan perjalanan dan mengunjungi wisata budaya satu ini, Suku Baduy. Pertama kali yang kami pernah bayangkan setelah mendengar kata Suku Baduy adalah tentang kehidupan yang jauh dari modernisasi, hidup di hutan, hidup dengan aturan-aturan adat, serta orang-orang yang menyeramkan. Namun setelah kami melihat dan merasakan sendiri ternyata anggapan-anggapan kami sebelumnya tentang kehidupan Suku Baduy itu tidak semuanya benar.

Kehidupan Suku Baduy

Lumbung padi Suku Baduy Luar | Foto: Putri Budi
©wisatawan.id

Tidak ada kendaraan umum yang dapat kalian pakai untuk dapat pergi ke sini. Dari stasiun terakhir Rangkas Bitung, kalian dapat menyewa kendaraan yang banyak ditawarkan di sana. Karena saya dan teman-teman lumayan banyak, jadi kami menyewa sebuah ELF. Kalian bisa tawar-menawar berapa harga yang harus kalian bayar untuk mengantarkan kalian ke desa pemberhentian terakhir menuju Suku Baduy Dalam. Jangan lupa untuk membuat janji kepada pak supir untuk menjemput kalian pulang.

Tradisi kehidupan Suku Baduy Dalam tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi, mereka juga tidak boleh menggunakan alas kaki, pintu rumah mereka harus menghadap ke utara/ selatan kecuali rumah ketua adat, mereka tidak boleh menggunakan alat elektronik, pakaian mereka juga hanya berwarna hitam atau putih dengan ditenun dan dijahit dengan tangan.

Saat kami di sana selama tiga hari dua malam, kami mandi tidak menggunakan pasta gigi, sabun mandi, dan shampoo. Awalnya agak kurang nyaman dengan keadaan seperti ini. Tapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan kami menikmatinya. Kami juga tidak dapat menggunakan alat komunikasi. Ini sangat baik bagi kalian yang sangat addicted pada handphone kalian dan kesibukan kalian, kalian dapat berelaksasi di sini dan meninggalkan segala rutinitas kalian. Kami juga tidak dapat mengambil gambar kehidupan Suku Baduy Dalam, semua terekam hanya dalam ingat kami sendiri.

Ketika di sana kami menginap di dua rumah warga Suku Baduy Dalam yang berbeda. Karena ada peraturan adat bahwa setiap warga yang tinggal di sana tidak boleh tinggal di satu rumah lebih dari satu malam. Untuk menginap di sana kalian tidak harus bayar. Kalian hanya mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa sesuai dengan permintaan mereka. Selain itu kalian bisa menyumbangkan uang seikhlasnya untuk mereka.

Kehidupan perekonomian dan kehidupan suku baduy sehari-harinya hanya mengandalkan hasil dari alam. Di Suku Baduy Dalam juga terdapat beberapa penduduk dari luar yang menjual souvernir serta makanan dan minuman untuk para tamu. Namun bukan Suku Baduy Dalam yang berjualan, melainkan orang-orang luar Suku Baduy Dalam.

Berbeda dengan Suku Baduy Dalam, Suku Baduy Luar, mereka adalah kelompok masyarakat yang “melanggar” adat masyarakat Suku Baduy Dalam, mereka telah menggunakan teknologi, rumah mereka juga telah menggunakan peralatan modern, pakaian yang meraka pakai juga sudah modern, pakaian ada yang mereka pakai untuk laki-laki adalah berwarna hitam dan biasanya memakai sorban berwarna biru, dan mereka tidak berada di dalam lingkungan Suku Baduy Dalam.

Ketika perjalanan pulang, kalian akan menemukan beberapa penduduk yang menjual kain tenun khas Baduy dan madu khas daerah sana.

Kehidupan Suku Baduy

Perjalanan meninggalkan Suku Baduy Dalam | Foto: Putri Budi
©wisatawan.id

Suku Baduy ini berada di wilayah pegunungan. Permukaan tanahnya berbukit dan bergelombang dengan kemiringan 45%. Perjalanan menuju dan keluar dari Baduy Dalam yang lumayan melelahkan. Namun kelelahan itu terbayar dengan betapa beruntungnya bisa merasakan hidup dan merasakan menjadi bagian dari Suku Baduy Dalam walaupun hanya dua malam saja. Pemandangan di sekitar juga sangat bagus. Air sungai yang mengalir sangat jernih dan dingin. Saat lelah, lalu membasuhkan muka dengan air ini membuat tubuh segar kembali.

Kehidupan Suku Baduy

Suasana alam yang asri Suku Baduy Luar | Foto: Putri Budi
©wisatawan.id

Sampai saat ini Suku Baduy Dalam tetap mempertahankan kehidupan mereka yang terisolasi dari dunia luar. Namun mereka tidak merusak alam terlebih tidak mengganggu kehidupan mereka dengan masyarakat luar. Mereka hidup rukun dan saling menghormati. Mereka juga tidak tertarik dengan modernisasi.

Suku Baduy adalah warisan budaya Indonesia yang harus tetap dipertahankan dan diperkenalkan kepada dunia luas. Agar dunia tahu bahwa Indonesia adalah negeri yang memiliki kekayaan budaya yang melimpah.

https://i0.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/05/baduy-2.jpg?fit=798%2C385&ssl=1https://i0.wp.com/www.wisatawan.id/wp-content/uploads/2016/05/baduy-2.jpg?resize=150%2C150&ssl=1Putri BudiBantenBerbudayaSuku Baduy,Suku Indonesia,Suku Pedalaman
Ini adalah pengalaman saya merasakan kehidupan Suku Baduy, masyarakat luar menyebut suku ini dengan sebutan Suku Baduy karena sesuai dengan nama sungai dan gunung Baduy yang berada di sana. Sebenernya masyarakat suku tersebut sendiri lebih menyukai jika dipanggil Suku Kanekes, sesuai dengan nama daerah mereka. Menurut Permana (2001), Masyarakat...
The following two tabs change content below.

Putri Budi

Explorer
A master student of tourism who likes to travel alot